Rabu, 10 Mei 2017

Kewajiban Berguru bagi seorang yang menuntut ilmu yang bermanfaat

Artikel ini saya mulai dengan mengutip beberapa hadist dan pendapat ulama' tentang pentingnya belajar kepada seorang Guru.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”.
(HR. Ahmad)

Hadist di atas menjelaskan akan bahaya bagi orang yang mengkaji ilmu agama hanya mengandalkan akal dan logika,
Dan dalam hadits lain Rasululloh menegaskan bahwa barang siapa belajar tanpa bimbingan seorang guru dikhawatirkan sesat..

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah saw bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.”
(Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Pendapat ulama’:

وَلاَبُدَ فِى سُلُوْكِ طَرِيْقِ الْحَقِّ مِنْ اِرْشَادِ اُسْتَاذٍ حَاذِقٍ وَتَسْلِيْكِ شَيْخٍ كَامِلٍ مُكَمَّلٍ حَتَّى تَظْهَرُ حَقِيْقَةِ التَّوْحِيْدِ بِتَغْلِيْبِ الْقَوِى الرُّحَانِيَةِ عَلَى اْلقَوِىِّ الْجِسْمَانِيَّةِ

Diwajibkan bagi orang yang mencari jalan yang benar (belajar agama) untuk mencari seorang guru yang benar, dan di bawah arahan guru yang sempurna dan bisa menyempurnakan sehingga bisa menghantarkan kepada hakikat keyakinan dengan mengedepankan kekuatan ruhani mengalahkan kekuatan jasmani (akal fikiran)
(Tafsir haqqi, juz 15, hal: 13)

وقال الشيخ أَبُوْ عَلِىّ الدَّقَاقِ : لَوْ أَنَّ رَجُلاً يُوْحَى إِلَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ لاَ يَجِيْئُ مِنْهُ مِنَ اْلأَسْرَارِ

Syeh Abu Ali al-Daqoq berkata: seandainya seseorang diberi petunjuk dan baginya tidak memiliki guru maka jangan berharap akan muncul baginya asror (rahasia yang benar dari kebenaran ilmu tersebut).

فَعَلَى قَارِئَ اْلقُرآنِ اَنْ يَأْخُذَ قِرَائَتُهُ عَلَى طَرِيْقِ التَّلَقِّى وَ اْلإِسْنَادِ عَنِ الشُّيُوْخِ اْلآخِذِيْنَ عَنْ شُيُوْخِهِمْ كَى يَصِلَ اِلَى تَأْكِدٍ مِنْ أَنَّ تِلاَوَتَهُ تُطَابِقُ مَا جَاءَ عَنِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه و سلم

Bagi orang yang belajar membaca al-Qur’an di(syaratkan) untuk belajar cara membaca dari (guru) yang guru tersebut mendapat ajaran dari gurunya, agar kebenaran dari bacaan tersebut sesuai dengan apa
yang di ajarkan rasulullah saw.
(Haqqu al-Tilawaah, hal: 46)

Berkata syeikh ku, bahwasanya Kedudukan seorang guru bagi murid-muridnya ibarat kompas yang menunjukkan arah yang dituju bagi seorang yang sedang berlayar dilautan nan luas..

Sungguh suatu kebodohan yang nyata jika seseorang berfikir bahwa dia cukup membaca dan mengkaji sendiri secara langsung dengan membaca Al-quran terjemahan... Mengapa dia lupa bahwa dia bisa membaca saja itu karena diajarkan seorang guru..
Bagaimana pula dia bisa mengkaji maknanya tanpa bimbingan seorang guru..

Yang saya maksudkan dengan guru bukanlah guru madrasah, bukanlah dosen, meskipun mungkin mereka mengajarkan mata pelajaran agama islam..

Tapi guru yang saya maksudkan adalah guru yang kamil mukammil, yang sempurna lagi menyempurnakan, yang mengajarkan Ilmu Tauhid, mulai dari jalan Syari'at, jalan Thoriqat, jalan Haqiqat dan jalan Ma'rifat yang melalui gerbang beRupa Bai'at atau istilah yang dipakai di Tanjungkukuh yaitu "Mutus"..

Dimana guru mengijazahkan ilmunya kepada murid disertai jaminan semenjak dari dunia hingga akherat akan kebenaran ilmu yang diajarkannya..

Inilah jalan kebenaran "shirootholmustaqiim"

Untuk belajar kepadanya (guru Tasawuf) seseorang haruslah menghindari perasangka yang buruk terhadapnya, sebab mereka terkadang tidak menampakkan kesolehannya, bahkan terkadang bersikap seperti orang kebanyakan, mendekatlah kepada mereka dengan sangka baik, sama halnya engkau harus bersangka baik kepada Allah SWT. meskipun Dia tak kunjung mengabulkan do'a-do'a mu..
Sebab tidak akan mendekat kecuali orang yang menjaga hatinya dari sangka buruk terhadap dia serta senantiasa sangka baik terhadap kebenaran ilmu-Nya Allah yang diajarkannya..

"jika dengan membaca Al-Qur'an terjemahan dan engkau merasa bahwa engkau telah mendapat petunjuk, maka ketahuilah apa yang engkau baca itu hanyalah alih bahasa dari bahasa arab ke bahasa indonesia, "

Padahal Al-Qur'an mengandung makna yang sangat luas dan dalam yang hanya Allah dan Ambiya' -Nya dan orang-orang khos khowasul khowas terpilih yang telah sampai pada taraf ladunni yang mengetahui betapa luas dan betapa dalamnya tafsir dari Al-Qur'an..

Saudaraku...
Mengapakah engkau masih belum terpanggil untuk menemui seorang pembimbing?
Lembutkanlah hatimu untuk menjumpainya..
Ringankanlah kakimu untuk berjalan ketempatnya..
Apakah engkau menunggu sampai engkau siap dulu..?
Ketahuilah ajal akan menjemputmu tidak perduli apakah engkau sudah siap atau belum..
Apakah karena umurmu belum 40 tahun?
Bagaimana jika Umurmu tidak sampai 40 tahun dan engkau telah dipanggil menghadap Allah Rabbul izzati..?
Tidak ada alasan untuk berleha-leha..
Ingat firman Allah dalam Al-Qur'an..
"Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih...dst.
Agar kekosongan jiwamu akan terpenuhi dengan cahaya ilahi..
Agar runtuh kesombongan nafsumu yang telah menguasai hatimu selama ini..
Dan lemahlah nafsu mu dihadapan kemuliaan Allah Azza wajalla..
Bersegeralah datang kepada guru, taatlah akan perintahnya dan jauhi apa yang dilarangnya, bersabarlah atas ujiannya..
Mudah-mudahan engkau termasuk yang terpilih untuk menjadi kekasih-Nya.

Semoga tulisan ini dapat memberi pencerahan meskipun hanya sedikit.. Karena apa guna banyak jika tidak bermanfaat, lebih baik sedikit tapi bermanfaat, ibarat pepatah;

"Apalah arti ibadah segunung dibanding segelintir Anugerah"
Yang sedikit tetapi barokah jauh lebih berharga ketimbang Banyak tetapi mendatangkan malapetaka..

Wassalam penulis
ikhwan Tanjungkukuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar